Showing posts with label perempuan. Show all posts
Showing posts with label perempuan. Show all posts

13 February 2010

valentine poem


Pilihan puisi valentine aku kali ini jatuh ke puisi william shakespeare, sonnet 130.

Shakespeare’s sonnet 130

My mistress' eyes are nothing like the sun
Coral is far more red than her lips' red
If snow be white, why then her breasts are dun
If hairs be wires, black wires grow on her head
I have seen roses damask, red and white
But no such roses see I in her cheeks
And in some perfumes is there more delight
Than in the breath that from my mistress reeks
I love to hear her speak, yet well I know
That music hath a far more pleasing sound
I grant I never saw a goddess go
My mistress, when she walks, treads on the ground
And yet, by heaven, I think my love as rare
As any she belied with false compare

Mendekati valentine’s day, mau ikutan nulis yang berbau cinta. Coba ingat-ingat karya tokoh yang melegenda, dan pikirannya langsung ke bapak Shakespeare ini. Dari sekian banyak puisi salah satu sastrawan terbesar Inggris ini, yang aku suka dan yang paling bisa aku cerna (walau sedikit), ya sonnet 130 ini. Salah satu puisinya yang memakai perbandingan kecantikan perempuan dengan gambaran alam.

puisinya dari sini
:inlove:

20 January 2010

Don't treat her like a mind reader


How does she know that you love her?
How do you show her you love her?
How does she know that you really, really, truely, love her?

It's not enough to take the one you love for granted
You must remind her or she'll be inclined to say
How do I know he loves me?
How do I know he's mine?


Does he leave a little note to tell you, you are on his mind?

Send you yellow flowers when the sky is grey

He'll find a new way to show you, A little bit everyday

That's how you know, That's how you know, he's your love


Everybody wants to live happily ever after

Everybody wants to know their true love is true


Does he take you out dancing just so he can hold you close?

Dedicate a song with words meant just for you

Because he'll wear your favorite color just so he can match your eyes

plan a private picnic by the fire glow

His heart will be yours forever

Something everyday will show

That's how you know, That's how you know, he's your love.

(ost enchanted)
love love love this song...


perempuan itu katanya makhluk verbal. Membutuhkan pengungkapan. Walau kita bisa lihat apa yang lagi terjadi, tapi perempuan butuh ungkapan. Pengakuan.

Don’t treat her like a mind reader. Perempuan juga butuh suatu pernyataan, untuk percaya dari yang kita udah lihat. Yang berusaha kita simpulkan, butuh bantuan ‘kalimat-kalimat’ itu.

You’ve got to tell her..^^

09 December 2009

Mamaku seorang wanita mulia


Terinspirasi dari cerita di buku sis zabrina.
Tahukah kamu? Ternyata kita membutuhkan tiket untuk setiap hal. Untuk naik kereta kita butuh tiket. Untuk naik pesawat kita butuh tiket. Untuk masuk dufan kita perlu tiket. Untuk masuk suatu kantor, tiketnya IdCard. Bahkan untuk toilet umum pun kita perlu membayar untuk mendapat tiket masuk. Lalu untuk masuk surga apa tiketnya?
Ya Allah apa yang kubutuhkan untuk mendapat tiket menuju surga-Mu?

Mu’wiyah Ibn Jahimah ra, menuturkan bahwa dia pernah menemui Nabi saw dan berkata, ”Wahai, Rasulullah! Aku berniat pergi berjihad. Aku datang menemuimu untuk meminta nasihatmu.” Nabi bertanya kepadanya, ”Apakah ibumu masih hidup?” ”ya,” jawab Jahimah. Kemudian Nabi berkata, ”Teguhlah berbakti kepadanya karena surga terletak dibawah telapak kakinya”
An-Nasa’i

MasyaAllah, pernahkah aku tersadar betapa mulia status ibuku?
Bahkan tanpa status itu pun ternyata ibuku begitu mulia. Beliau seorang dokter yang dengan doanya kepada Allah mengharapkan kesembuhan pasien-pasiennya. Seorang wanita yang begitu mencintai sedekah. Ketika melihat seorang lelaki tua yang membersihkan masjid, hatinya tergerak untuk memberi sedekah. Untuk para tukang becak di sekitar rumah, beliau memberikan sedekahnya. Ketika melihat kakek tua berusaha menjual kerupuk di lampu merah, beliau ingin membelinya. Anak-anak yatim pun tak luput dari pemberian sedekahnya. Mungkin tiada hari tanpa sedekah baginya. Sedekah yang mendekatkannya kepada Allah.

Dan dengan status itu pun ternyata semakin aku tersadar betapa penting perempuan itu, ibuku. Beliaulah yang seharusnya menjadi prioritas hidupku. Selama ini apakah aku telah mendahulukannya? Ketika ibuku membangunkan aku untuk solat subuh, apakah aku langsung terbangun? Bahkan ketika sekarang kita tidak tinggal seatap, ibuku tetap menelponku untuk usahanya membangunkan solat. Dan masih saja terkadang ada keinginanku untuk tidak bangun dan tidak menjawab telponnya. Lalu Ketika ibuku memanggil ditengah-tengah kegiatanku, apakah aku langsung mendekatinya? Atau hanya kata ”tunggu” yang aku keluarkan? Selama ini ada dimanakah posisinya? Padahal hanya amal baik padanyalah caraku mendapatkan tiket itu.

Satu hal lagi yang aku renungkan, apakah dihari tuanya aku akan berada disampingnya? Apakah aku akan menyuapinya seperti beliau menyuapiku waktu kecil? Apakah aku akan menuntunnya seperti beliau menunutunku saat aku blom bisa berjalan? Apakah aku akan mengerti seperti beliau mengerti saat aku blom bisa berbicara? Apakah aku akan menemaninya seperti beliau menemani dan memelukku ketika aku sakit? Ya Allah, izinkan aku berada disisinya selalu!

21 tahun hidupku, Beliau menjagaku, ditambah 9 bulan masa kandungan. Beliau merasakan sakit dan lelah hanya untuk menjagaku. Lalu apa yang telah aku berikan? Pernahkan aku memberinya kebahagiaan?

Ya Allah, aku menyadarinya. Beliaulah pemegang tiketku. Apakah masih ada kesempatan untukku memberi kebahagiaan kepada pemegang tiketku? Apakah masih ada waktu yang cukup untuk selalu berbicara lembut padanya?

Terimakasih ya Allah. Engkau telah membuatku menyadarinya. Beliaulah pemegang tiketku. Beliaulah prioritasku setelah Engkau.
Buat semuanya yg baca, semoga kita masih bisa memberi banyak kebahagiaan ya buat beliau, pemegang tiket kita...

mama, i love you...
love

02 June 2009

Aku malu, ternyata aku tidak mengerti


Setelah sekian lama tidak menggunakan fasilitas transportasi yang satu ini, akhirnya hari ini aku naik bis lagi. Ada satu pelajaran yang aku dapat di moment itu. Satu hal yang bisa aku renungkan dari percakapan sepasang penumpang di bis itu. Sepasang ibu dan anak perempuan, ibu muda yang akan mengantarkan anaknya untuk sekolah. Ntah TK atau playgroup. Pertama kali yang dilihat dari pasangan itu, aku hanya tertarik pada anaknya. Seorang anak perempuan cantik, lucu dan gemuk. pipinya sangat membuatku gemas untuk menciumcium atau mencubitnya. Terus saja pendanganku tertuju pada pasangan itu, melihat tingkah pola anak yang sangat lucu. Mulai dari merengek untuk diturunkan dari pangkuan si ibu dan meminta untuk duduk di bangkunya sendiri, sampai dia merengek tidak mau sekolah. Di sini aku mulai memperhatikan percakapan mereka.

Anak : ma, aku gak mau sekolah! (sambil merengek)
Ibu : kenapa?
Anak : habis di sekolah ada teman yang suka pinjam pensil aku. Aku ga mau.
Ibu : loh, dikasih pinjam dong temannya.
Anak : ga mau. (sambil terus merengek hampir menangis)
Ibu : kalau adek pinjamin pensil ke temannya itu artinya berbagi, dan berbagi itu baik.
Anak : ga mau, nanti ga dikembaliin.
Ibu : (sambil terus membujuk, ibunya mencoba membuat anaknya mengerti) nanti temannya kembaliin. adek, kalau sekolah itu harus saling berbagi. Mungkin pensil temannya ketinggalan di rumah. Nah adek kalau punya pensil lebih dan mau pinjamin, artinya adek teman yang baik. Selain itu masih banyak yang adek harus berbagi, misalnya kamar kecil. Di sekolah adek ga punya kamar kecil sendiri, tapi satu untuk dipakai bersama teman yang lain. Nah jadi adek kalau pakai kamar kecil harus bersih, biar teman-temannya juga enak kalau mau pakai kamar kecilnya. Adek harus belajar berbagi ya!
Anak : iya, ma. (mengangguk sambil meredakan rengekannya)

Setelah beberapa saat hanya memperhatikan anaknya, akhirnya karena percakapan itu aku jadi memperhatikan ibunya. Seorang ibu muda itu memberikan satu pesan untuk anaknya hanya dari satu adegan itu. Aku langsung mikir, gimana kalau aku ada di posisi ibu itu. Menghadapi anakku yang sedang merengek seperti itu. Mungkin akan memberikan respon yang berbeda. Mungkin aku hanya akan bilang untuk pinjemin aja pensilnya, kalau ga dikembaliin nanti mama beliin lagi. Hmm... mungkin itu bukan jawaban yang salah, tapi lihat deh ibu itu. Disaat seperti itu dia malah bisa menyelipkan sedikit pelajaran berbagi untuk anaknya. Satu respon yang baik bukan? Aku jadi malu. Belom bisa jadi ibu yang baik kayanya.adus Untung saat ini aku belum punya anak. Heee... kalau punya apa jadinya.

Semakin aku sadar kalau seorang anak itu akan terbentuk dari nilai-nilai awal yang ibunya berikan. Sekolah untuk menjadi orang tua yang baik itu memang tidak ada. Tapi belum terlambat menurutku untuk mulai mempelajarinya. Ntah dari artikel-artikel, buku atau memperhatikan sekitar kita. Yuk, sama-sama belajar!

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails