Untuk Mama. Semoga terlimpah bahagia. Tanpa jeda.
Untuk semua untaian doa dari mulut muliamu. Terima kasih.
Untuk setiap belaian lembut. Yang justru menguatkan. Terima kasih.
Untuk setiap pelukan hangat. Yang mengalirkan kasih sayang. Terima kasih.
Untuk setiap kasih yang tak terbatas. Terima kasih.
Untuk semua perhatian. Yang tak terurai satu persatu. Aku tau. Cintamu untukku tak pernah ragu.
Untuk semua lelah perjuanganmu. Tuhan, tukarkan dengan kebahagiaan akhirat kelak.
Untuk semua kecewa, air mata, dan sedih yang kusebabkan. Maaf, Ma.
I love you, mom. Thank you for loving me unconditionally.
Showing posts with label orang tua. Show all posts
Showing posts with label orang tua. Show all posts
22 December 2010
23 March 2010
Papaku Pria Hebat

sebelumnya aku pernah nulis tentang mama, disini. sekarang giliran papa.
Aku mempunyai seorang pria hebat di keluargaku. Seorang berwibawa yang mencintai keluarganya. Aku menghormatinya selalu. Pengorbanannya untuk keluarga tak dapat aku gambarkan seberapa besarnya. 24 jam dalam sehari dihidupnya lebih banyak beliau lakukan untuk bekerja. Pagi beliau berangkat ke kantor, dan pulang sore hari. Blom cukup waktunya beristirahat, beliau kemudian pergi praktek sampai malam. Begitu melelahkan tampaknya.
Aku mencintainya lebih dari yang beliau tahu. Bahkan Impianku bisa mendapat seorang pria pendamping hidupku yang sehebat beliau. Selama ini mungkin beliau merasa bahwa kami tidak perhatian padanya. sadarkah sudah berapa banyak aku tidak memperhatikannya.
Untuk pria hebat itu, ternyata aku kurang memperhatikannya. Sudahkah kuucapkan terima kasih atas usahanya selama ini?
Ternyata telah begitu banyak kesempatan yang hilang. Ya Allah.. Masih cukupkah waktuku untuk berbakti padanya? Masih adakah waktu yang cukup untuk menghabiskan waktu bersamanya? Dari semua waktu yang terlewat tanpa aku sadari, aku masih akan berusaha membuat pria hebat itu bahagia.
Pria hebat itu adalah Papaku..
Terima kasih, Pa...
Aku mempunyai seorang pria hebat di keluargaku. Seorang berwibawa yang mencintai keluarganya. Aku menghormatinya selalu. Pengorbanannya untuk keluarga tak dapat aku gambarkan seberapa besarnya. 24 jam dalam sehari dihidupnya lebih banyak beliau lakukan untuk bekerja. Pagi beliau berangkat ke kantor, dan pulang sore hari. Blom cukup waktunya beristirahat, beliau kemudian pergi praktek sampai malam. Begitu melelahkan tampaknya.
Aku mencintainya lebih dari yang beliau tahu. Bahkan Impianku bisa mendapat seorang pria pendamping hidupku yang sehebat beliau. Selama ini mungkin beliau merasa bahwa kami tidak perhatian padanya. sadarkah sudah berapa banyak aku tidak memperhatikannya.
Untuk pria hebat itu, ternyata aku kurang memperhatikannya. Sudahkah kuucapkan terima kasih atas usahanya selama ini?
Ternyata telah begitu banyak kesempatan yang hilang. Ya Allah.. Masih cukupkah waktuku untuk berbakti padanya? Masih adakah waktu yang cukup untuk menghabiskan waktu bersamanya? Dari semua waktu yang terlewat tanpa aku sadari, aku masih akan berusaha membuat pria hebat itu bahagia.
Pria hebat itu adalah Papaku..
Terima kasih, Pa...
09 February 2010
Papa said

Family time, kemaren kita sempat bareng-bareng nonton acaranya oprah. diepisode itu ada seorang pria, single, yang mengadopsi 9 anak. Pria itu mengadopsi anak-anak yang serba kekurangan, ntah dalam hal fisik, psikis atau materi. Dia pun mengadopsi anak dari negara yang berbeda-beda. Pernah juga dalam satu kesempatannya mengunjungi satu negara, dia lihat di sana banyak anak yang terlantar di jalan, tidak memiliki tempat tinggal yang jelas. Akhirnya dia mengajukan ijin untuk mengadopsi salah satu anak dari negara tersebut. Dan akhirnya sekarang dia merawat 9 anak yang ada di rumahnya dengan sangat baik.
Dijeda iklan tiba-tiba papa ngomong, “kaya gini nih orang-orang yang bakal terbuka pintu surga buat dia. Orang yang melakukan sesuatu untuk orang lain. Orang yang hidup untuk bermanfaat buat semua orang. Orang yang dalam hidupnya senang ketika berbuat kebaikan untuk sekitarnya.” Yes, that’s my father. I always love the way he thinks. He’s smart. Sekali lagi papa ngajarin sesuatu dengan caranya yang selalu aku suka. Papa bilang, dihidup ini lakukanlah sesuatu untuk orang lain, jangan hanya untuk kepentingan sendiri. Bermanfaatlah untuk orang lain.
Gara-gara papa, aku jadi kepikiran di blog ini mau coba nulis hal-hal yang juga ada pesannya. Yang ringan-ringan aja, Info atau apapun yang bisa jadi inspirasi. Jadi tolong ingetin aku ya biar ga cuma nge-junk di blog sendiri! Hehehe... Bismillah...
Dijeda iklan tiba-tiba papa ngomong, “kaya gini nih orang-orang yang bakal terbuka pintu surga buat dia. Orang yang melakukan sesuatu untuk orang lain. Orang yang hidup untuk bermanfaat buat semua orang. Orang yang dalam hidupnya senang ketika berbuat kebaikan untuk sekitarnya.” Yes, that’s my father. I always love the way he thinks. He’s smart. Sekali lagi papa ngajarin sesuatu dengan caranya yang selalu aku suka. Papa bilang, dihidup ini lakukanlah sesuatu untuk orang lain, jangan hanya untuk kepentingan sendiri. Bermanfaatlah untuk orang lain.
Gara-gara papa, aku jadi kepikiran di blog ini mau coba nulis hal-hal yang juga ada pesannya. Yang ringan-ringan aja, Info atau apapun yang bisa jadi inspirasi. Jadi tolong ingetin aku ya biar ga cuma nge-junk di blog sendiri! Hehehe... Bismillah...
09 December 2009
Mamaku seorang wanita mulia
Terinspirasi dari cerita di buku sis zabrina.
Tahukah kamu? Ternyata kita membutuhkan tiket untuk setiap hal. Untuk naik kereta kita butuh tiket. Untuk naik pesawat kita butuh tiket. Untuk masuk dufan kita perlu tiket. Untuk masuk suatu kantor, tiketnya IdCard. Bahkan untuk toilet umum pun kita perlu membayar untuk mendapat tiket masuk. Lalu untuk masuk surga apa tiketnya?
Ya Allah apa yang kubutuhkan untuk mendapat tiket menuju surga-Mu?
Mu’wiyah Ibn Jahimah ra, menuturkan bahwa dia pernah menemui Nabi saw dan berkata, ”Wahai, Rasulullah! Aku berniat pergi berjihad. Aku datang menemuimu untuk meminta nasihatmu.” Nabi bertanya kepadanya, ”Apakah ibumu masih hidup?” ”ya,” jawab Jahimah. Kemudian Nabi berkata, ”Teguhlah berbakti kepadanya karena surga terletak dibawah telapak kakinya”
An-Nasa’i
MasyaAllah, pernahkah aku tersadar betapa mulia status ibuku?
Bahkan tanpa status itu pun ternyata ibuku begitu mulia. Beliau seorang dokter yang dengan doanya kepada Allah mengharapkan kesembuhan pasien-pasiennya. Seorang wanita yang begitu mencintai sedekah. Ketika melihat seorang lelaki tua yang membersihkan masjid, hatinya tergerak untuk memberi sedekah. Untuk para tukang becak di sekitar rumah, beliau memberikan sedekahnya. Ketika melihat kakek tua berusaha menjual kerupuk di lampu merah, beliau ingin membelinya. Anak-anak yatim pun tak luput dari pemberian sedekahnya. Mungkin tiada hari tanpa sedekah baginya. Sedekah yang mendekatkannya kepada Allah.
Dan dengan status itu pun ternyata semakin aku tersadar betapa penting perempuan itu, ibuku. Beliaulah yang seharusnya menjadi prioritas hidupku. Selama ini apakah aku telah mendahulukannya? Ketika ibuku membangunkan aku untuk solat subuh, apakah aku langsung terbangun? Bahkan ketika sekarang kita tidak tinggal seatap, ibuku tetap menelponku untuk usahanya membangunkan solat. Dan masih saja terkadang ada keinginanku untuk tidak bangun dan tidak menjawab telponnya. Lalu Ketika ibuku memanggil ditengah-tengah kegiatanku, apakah aku langsung mendekatinya? Atau hanya kata ”tunggu” yang aku keluarkan? Selama ini ada dimanakah posisinya? Padahal hanya amal baik padanyalah caraku mendapatkan tiket itu.
Satu hal lagi yang aku renungkan, apakah dihari tuanya aku akan berada disampingnya? Apakah aku akan menyuapinya seperti beliau menyuapiku waktu kecil? Apakah aku akan menuntunnya seperti beliau menunutunku saat aku blom bisa berjalan? Apakah aku akan mengerti seperti beliau mengerti saat aku blom bisa berbicara? Apakah aku akan menemaninya seperti beliau menemani dan memelukku ketika aku sakit? Ya Allah, izinkan aku berada disisinya selalu!
21 tahun hidupku, Beliau menjagaku, ditambah 9 bulan masa kandungan. Beliau merasakan sakit dan lelah hanya untuk menjagaku. Lalu apa yang telah aku berikan? Pernahkan aku memberinya kebahagiaan?
Ya Allah, aku menyadarinya. Beliaulah pemegang tiketku. Apakah masih ada kesempatan untukku memberi kebahagiaan kepada pemegang tiketku? Apakah masih ada waktu yang cukup untuk selalu berbicara lembut padanya?
Terimakasih ya Allah. Engkau telah membuatku menyadarinya. Beliaulah pemegang tiketku. Beliaulah prioritasku setelah Engkau.
Buat semuanya yg baca, semoga kita masih bisa memberi banyak kebahagiaan ya buat beliau, pemegang tiket kita...
mama, i love you...
Tahukah kamu? Ternyata kita membutuhkan tiket untuk setiap hal. Untuk naik kereta kita butuh tiket. Untuk naik pesawat kita butuh tiket. Untuk masuk dufan kita perlu tiket. Untuk masuk suatu kantor, tiketnya IdCard. Bahkan untuk toilet umum pun kita perlu membayar untuk mendapat tiket masuk. Lalu untuk masuk surga apa tiketnya?
Ya Allah apa yang kubutuhkan untuk mendapat tiket menuju surga-Mu?
Mu’wiyah Ibn Jahimah ra, menuturkan bahwa dia pernah menemui Nabi saw dan berkata, ”Wahai, Rasulullah! Aku berniat pergi berjihad. Aku datang menemuimu untuk meminta nasihatmu.” Nabi bertanya kepadanya, ”Apakah ibumu masih hidup?” ”ya,” jawab Jahimah. Kemudian Nabi berkata, ”Teguhlah berbakti kepadanya karena surga terletak dibawah telapak kakinya”
An-Nasa’i
MasyaAllah, pernahkah aku tersadar betapa mulia status ibuku?
Bahkan tanpa status itu pun ternyata ibuku begitu mulia. Beliau seorang dokter yang dengan doanya kepada Allah mengharapkan kesembuhan pasien-pasiennya. Seorang wanita yang begitu mencintai sedekah. Ketika melihat seorang lelaki tua yang membersihkan masjid, hatinya tergerak untuk memberi sedekah. Untuk para tukang becak di sekitar rumah, beliau memberikan sedekahnya. Ketika melihat kakek tua berusaha menjual kerupuk di lampu merah, beliau ingin membelinya. Anak-anak yatim pun tak luput dari pemberian sedekahnya. Mungkin tiada hari tanpa sedekah baginya. Sedekah yang mendekatkannya kepada Allah.
Dan dengan status itu pun ternyata semakin aku tersadar betapa penting perempuan itu, ibuku. Beliaulah yang seharusnya menjadi prioritas hidupku. Selama ini apakah aku telah mendahulukannya? Ketika ibuku membangunkan aku untuk solat subuh, apakah aku langsung terbangun? Bahkan ketika sekarang kita tidak tinggal seatap, ibuku tetap menelponku untuk usahanya membangunkan solat. Dan masih saja terkadang ada keinginanku untuk tidak bangun dan tidak menjawab telponnya. Lalu Ketika ibuku memanggil ditengah-tengah kegiatanku, apakah aku langsung mendekatinya? Atau hanya kata ”tunggu” yang aku keluarkan? Selama ini ada dimanakah posisinya? Padahal hanya amal baik padanyalah caraku mendapatkan tiket itu.
Satu hal lagi yang aku renungkan, apakah dihari tuanya aku akan berada disampingnya? Apakah aku akan menyuapinya seperti beliau menyuapiku waktu kecil? Apakah aku akan menuntunnya seperti beliau menunutunku saat aku blom bisa berjalan? Apakah aku akan mengerti seperti beliau mengerti saat aku blom bisa berbicara? Apakah aku akan menemaninya seperti beliau menemani dan memelukku ketika aku sakit? Ya Allah, izinkan aku berada disisinya selalu!
21 tahun hidupku, Beliau menjagaku, ditambah 9 bulan masa kandungan. Beliau merasakan sakit dan lelah hanya untuk menjagaku. Lalu apa yang telah aku berikan? Pernahkan aku memberinya kebahagiaan?
Ya Allah, aku menyadarinya. Beliaulah pemegang tiketku. Apakah masih ada kesempatan untukku memberi kebahagiaan kepada pemegang tiketku? Apakah masih ada waktu yang cukup untuk selalu berbicara lembut padanya?
Terimakasih ya Allah. Engkau telah membuatku menyadarinya. Beliaulah pemegang tiketku. Beliaulah prioritasku setelah Engkau.
Buat semuanya yg baca, semoga kita masih bisa memberi banyak kebahagiaan ya buat beliau, pemegang tiket kita...
mama, i love you...
02 June 2009
Aku malu, ternyata aku tidak mengerti

Setelah sekian lama tidak menggunakan fasilitas transportasi yang satu ini, akhirnya hari ini aku naik bis lagi. Ada satu pelajaran yang aku dapat di moment itu. Satu hal yang bisa aku renungkan dari percakapan sepasang penumpang di bis itu. Sepasang ibu dan anak perempuan, ibu muda yang akan mengantarkan anaknya untuk sekolah. Ntah TK atau playgroup. Pertama kali yang dilihat dari pasangan itu, aku hanya tertarik pada anaknya. Seorang anak perempuan cantik, lucu dan gemuk. pipinya sangat membuatku gemas untuk mencium
Anak : ma, aku gak mau sekolah! (sambil merengek)
Ibu : kenapa?
Anak : habis di sekolah ada teman yang suka pinjam pensil aku. Aku ga mau.
Ibu : loh, dikasih pinjam dong temannya.
Anak : ga mau. (sambil terus merengek hampir menangis)
Ibu : kalau adek pinjamin pensil ke temannya itu artinya berbagi, dan berbagi itu baik.
Anak : ga mau, nanti ga dikembaliin.
Ibu : (sambil terus membujuk, ibunya mencoba membuat anaknya mengerti) nanti temannya kembaliin. adek, kalau sekolah itu harus saling berbagi. Mungkin pensil temannya ketinggalan di rumah. Nah adek kalau punya pensil lebih dan mau pinjamin, artinya adek teman yang baik. Selain itu masih banyak yang adek harus berbagi, misalnya kamar kecil. Di sekolah adek ga punya kamar kecil sendiri, tapi satu untuk dipakai bersama teman yang lain. Nah jadi adek kalau pakai kamar kecil harus bersih, biar teman-temannya juga enak kalau mau pakai kamar kecilnya. Adek harus belajar berbagi ya!
Anak : iya, ma. (mengangguk sambil meredakan rengekannya)
Setelah beberapa saat hanya memperhatikan anaknya, akhirnya karena percakapan itu aku jadi memperhatikan ibunya. Seorang ibu muda itu memberikan satu pesan untuk anaknya hanya dari satu adegan itu. Aku langsung mikir, gimana kalau aku ada di posisi ibu itu. Menghadapi anakku yang sedang merengek seperti itu. Mungkin akan memberikan respon yang berbeda. Mungkin aku hanya akan bilang untuk pinjemin aja pensilnya, kalau ga dikembaliin nanti mama beliin lagi. Hmm... mungkin itu bukan jawaban yang salah, tapi lihat deh ibu itu. Disaat seperti itu dia malah bisa menyelipkan sedikit pelajaran berbagi untuk anaknya. Satu respon yang baik bukan? Aku jadi malu. Belom bisa jadi ibu yang baik kayanya.
Semakin aku sadar kalau seorang anak itu akan terbentuk dari nilai-nilai awal yang ibunya berikan. Sekolah untuk menjadi orang tua yang baik itu memang tidak ada. Tapi belum terlambat menurutku untuk mulai mempelajarinya. Ntah dari artikel-artikel, buku atau memperhatikan sekitar kita. Yuk, sama-sama belajar!
Subscribe to:
Posts (Atom)