
Tanpa mengetuk terlebih dulu kamu masuk ke kamarku dan langsung menangis di depanku. Seperti biasanya, kamu akan menumpahkan tangisanmu dihadapanku. Setiap ada yang menyakiti perasaanmu, selalu aku yang akan kamu cari. Kamu memang salah satu perempuan rapuh yang pernah aku kenal. Kali ini kamu menangis karena hubunganmu dengan pacarmu yang akhirnya berakhir. Aku tak perlu memberikan kata-kata, kamu bilang aku hanya perlu selalu ada dan cukup mendengar disaat seperti ini.
Seandainya kamu tahu, aku tak ingin hanya menjadi pundak tempatmu bersandar. Aku juga ingin menjadi seseorang yang akan memberi pelajaran untuk mereka yang telah membuatmu menangis. Dan aku pun ingin menjadi lelaki yang kau titipkan hatimu, tanpa perlu takut untuk tersakiti. Karena aku menyayangimu. Sejak pertama kali aku melihatmu, saat kamu berumur 11 tahun dan aku 15 tahun. Kamu telah menarik perhatianku, seorang gadis kecil yang memeluk bonekanya, terlihat rapuh tapi juga cantik. Sejak saat itu aku berjanji akan menjagamu. kini semakin dewasa kamu pun semakin cantik, juga semakin aku menyukaimu. Tapi aku tak akan pernah bisa memilikimu. Sempat aku marah pada Tuhan, kenapa mesti kamu, adikku sayang. Ya, aku sempat protes pada Tuhan. Kenapa ibuku harus menikah dengan ayahmu?
Tumbuh bersama denganmu selama 10 tahun ini, melihat perkembanganmu menjadi gadis dewasa, ternyata aku semakin menyukai kamu. Menyayangi kamu, lebih dari seorang kakak, seandainya kamu tau. Tapi kini aku telah berdamai dengan hatiku, saat ini aku tak pernah lagi menyampaikan protesku pada Tuhan. Dalam setiap dialogku dengan Tuhan, justru ada kamu dalam doaku. selalu doaku untuk kebahagiaanmu. Dan aku akan selalu ada untukmu, Hingga saatnya nanti kamu benar-benar menemukan seorang pria yang juga bisa menjagamu seperti aku.
Aku akan selalu ada di sini, sampai waktunya tiba nanti. Maka berhentilah menangis, adikku sayang!
Seandainya kamu tahu, aku tak ingin hanya menjadi pundak tempatmu bersandar. Aku juga ingin menjadi seseorang yang akan memberi pelajaran untuk mereka yang telah membuatmu menangis. Dan aku pun ingin menjadi lelaki yang kau titipkan hatimu, tanpa perlu takut untuk tersakiti. Karena aku menyayangimu. Sejak pertama kali aku melihatmu, saat kamu berumur 11 tahun dan aku 15 tahun. Kamu telah menarik perhatianku, seorang gadis kecil yang memeluk bonekanya, terlihat rapuh tapi juga cantik. Sejak saat itu aku berjanji akan menjagamu. kini semakin dewasa kamu pun semakin cantik, juga semakin aku menyukaimu. Tapi aku tak akan pernah bisa memilikimu. Sempat aku marah pada Tuhan, kenapa mesti kamu, adikku sayang. Ya, aku sempat protes pada Tuhan. Kenapa ibuku harus menikah dengan ayahmu?
Tumbuh bersama denganmu selama 10 tahun ini, melihat perkembanganmu menjadi gadis dewasa, ternyata aku semakin menyukai kamu. Menyayangi kamu, lebih dari seorang kakak, seandainya kamu tau. Tapi kini aku telah berdamai dengan hatiku, saat ini aku tak pernah lagi menyampaikan protesku pada Tuhan. Dalam setiap dialogku dengan Tuhan, justru ada kamu dalam doaku. selalu doaku untuk kebahagiaanmu. Dan aku akan selalu ada untukmu, Hingga saatnya nanti kamu benar-benar menemukan seorang pria yang juga bisa menjagamu seperti aku.
Aku akan selalu ada di sini, sampai waktunya tiba nanti. Maka berhentilah menangis, adikku sayang!





